Saham dan Obligasi

Posted by revel on Dec 5, 2008 in Finance Management |

PAPER FINANCE MANAGEMENT

Sartika Kurniali 0832200310

Celline Liawan 0832200430

Imanuel Revelino 0832200494

Thomas Ivantoro 0832200531

01 MBM

Group 4

PROGRAM PASCA SARJANA

BINUS UNIVERSITY

2009

Goverment Bonds di Indonesia / Surat Utang Negara (SUN)

Pengertian Obligasi

Obligasi merupakan salah satu instrumen keuangan yang cukup menarik bagi kalangan investor di pasar modal ataupun bagi perusahaan untuk mendapatkan dana bagi kepentingan perusahaan. Perkembangan produk obligasi di Indonesia itu sendiri masih cukup lamban dibandingkan perkembangan produk saham.

Perkembangan obligasi mulai menunjukkan peningkatan yang berarti sebagai alat investasi dan instrumen keuangan pada periode tahun 2000. Adanya pengetatan prosedur pinjaman di lembaga perbankan menyebabkan pihak perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk ekspansi bisnis atau melakukan pelunasan utangnya mulai melirik instrumen obligasi sebagai salah satu alternatif penggalangan dana. Beberapa alasan di antaranya adalah penerbitan obligasi lebih mudah dan fleksibel dibandingkan melakukan prosedur pinjaman di bank.

Selain itu, tingkat suku bunga obligasi bisa dibuat lebih menguntungkan bagi perusahaan dibandingkan tingkat suku bunga pinjaman dari bank yang cenderung meningkat.

Dalam melakukan pembelian obligasi, investor di pasar modal itu sendiri bisa mendapatkan keuntungan, yakni mendapatkan tingkat suku bunga (kupon), selain itu bisa menghasilkan pendapatan atas kenaikan nilai nominal obligasi ke harga premium tersebut di pasar sekunder.

Instrumen obligasi merupakan bagian dari instrumen investasi berpendapatan tetap (fixed incense securities). Obligasi termasuk dalam kelompok investasi berpendapatan scrap sebab jenis pendapatan keuntungan yang diberikan kepada investor obligasi didasarkan pada tingkat suku bunga yang telah ditentukan sebelumnya menurut perhitungan tertentu.

Tingkat pendapatan tersebut bisa berbentuk tingkat suku bunga tetap (fixed rate) dan tingkat suku bunga mengambang  (variable rate).

Melakukan investasi obligasi selain menghasilkan kupon juga memberikan tingkat potensi risiko investasi. Risiko ini bisa berbentuk wan prestasi (default) atas pembayaran kupon obligasi tersebut. Selain itu risiko yang paling ditakuti, yakni apabila pihak penerbit obligasi (emiten), karma kondisi perusahaannya mengalami likuidasi, tidak mampu membayar kewajiban pokok utangnya. Investor obligasi jangka pendek bisa juga mengalami kerugian akibat nilai pasar dari obligasi tersebut turun atau lebih rendah daripada harga beli obligasi tersebut.

Perbedaan Obligasi dengan Saham

Untuk lebih mengerti obligasi, akan dibandingkan karalcteristik obligasi dengan saham. Perbandingan ini meliputi jeniaktiva, risiko aktiva, siklus bisnis, term dan kondisinya, serta aspek legalnya. Banyak perusahaan yang akan menerbitkan obligasi selalu membandingkan manfaat dan rugi antara obligasi dan menerbitkan saham. Secara umum perbandingan yang paling prinsip adalah bahwa dengan menerbitkan obligasi berarti pemilik perusahaan (share holder) secara langsung menerbitkan surat utang yang mengandung kewajiban memberikan pembayaran tingkat suku bunga serta pelunasan pokok pinjaman. Sedangkan dengan menerbitkan saham, pemilik perusahaan tidak mempunyai kewajiban pembayaran, hanya porsi kepemilikan sahamnya mengalami penurunan.

Jenis risiko aktiva untuk obligasi relatif kecil sedangkan untuk saham relatif cukup besar serta tidak pasti. Jangka waktu instrumen obligasi ada batasnya sedangkan untuk saham tidak terbatas. Yang perlu dicermati, biaya modal untuk obligasi adalah membayar tingkat suku bunga sebelum pembayaran pajak, sedangkan untuk saham diharapkan dividen dibagikan setelah pengenaan pajak. Struktur biaya untuk suku bunga bisa bersifat fixed dan floating yang dialokasikan dari aliran kas perusahaan sedangkan untuk saham adalah persentase dari laba.

Untuk proses klaim atas aset perusahaan, pemegang obligasi mempunyai hak yang didahulukan ketimbang pemegang saham, termasuk juga dalam proses pailit atas perusahaan tersebut. Secara prinsip perbedaan karakteristik obligasi adalah bahwa perusahaan harus memikirkan pengembalian dan pinjaman dari hasil penerbitan obligasi tersebut. Hal inilah yang harus dipertimbangkan secara matang. Perusahaan yang tidak mempunyai arus kas yang kuat disarankan untuk lebih memilih menerbitkan saham supaya mendapatkan dana segar tanpa harus memikirkan pengembalian dana.
Instrumen obligasi pada dasarnya merupakan alternatif produk investasi yang sangat fleksibel serta sangat prospektif perkembangannya di masa mendatang. Apalagi untuk investor institusional yang menginginkan investasi dengan struktur pendapatan yang begitu variatif maka kehadiran berbagai instrumen obligasi akan sangat diminati.

Obligasi (Bond) sebagai salah satu bagian dari produk Fixed Income Securities (Pendapatan Tetap) dikenal sebagai alternatif untuk instrumen pembiayaan/investasi yang memberikan pendapatan bagi investor dengan kondisi nilai pendapatan dan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam melakukan investasi, yang paling umum dilakukan pada obligasi adalah bahwa setiap investor baik perorangan ataupun lembaga investasi akan membeli obligasi dalam periode jangka waktu tertentu misalnya 5 tahun atau 8 tahun. Dari pembelian obligasi tersebut, investor akan menerima penghasilan/return berbentuk tingkat suku bunga (coupon) yang akan diterima setiap tahun atau triwulan atau sesuai periode yang ditentukan sebelumnya, ditambah nilai pokok (principal) yang besarnya sama pada saat awal investasi dan akan diterima pada saat jatuh tempo.

Untuk investor obligasi yang mempunyai pola investasi jangka pendek serta menjual obligasi sebelum jaruh tempo, pendapatan tambahan yang diperolehnya hanya berbentuk kupon serta keuntungan atau kerugian dari selisih antara harga beli obligasi tersebut dan harga pada saat menjual obligasi tersebut di pasar sekunder.

Sesuai referensi Charles P Johnson (Investment Analysis, 1997) dikatakan bahwa: “Bonds are Fixed Income Securities can be describe simply as long term debt instruments representing the issuer’s contractual obligation, or IOU. The buyer of a newly issued coupon bond is lending money to the issuer who, in turn, aggrees to pay interest on this loan and repay the principal at a stated maturity date”

Dalam gambar di bawah ini bisa dilihat keuntungan yang akan didapatkan dari investasi pada obligasi dibandingkan dengan investasi pada saham yaitu:
Dari tabel tersebut bisa diketahui bahwa pendapatan penghasilan atau aliran kas dari investasi pada instrumen obligasi akan memberikan pemasukan aliran pendapatan tetap, teratur dan stabil. Hal inilah yang banyak diminati oleh investor obligasi, yakni bahwa dengan perhitungan pendapatan penghasilan tetap dari tingkat suku bunga obligasi, investor bisa memprediksikan secara sistimatis berapa besar penghasilan yang akan diperolehnya dalam periode tertentu.

Berbeda sekali dengan melakukan investasi pada saham yang sistem pendapatan penghasilannya (return) sangat fluktuatif dan tidak tetap, tergantung kondisi dan kinerja masing-masing perusahaan. Tingkat pendapatan saham baik berbentuk dividen ataupun bonus saham selalu tidal( menentu jumlahnya. Selain itu, potensi kerugian dari fluktuasi harga saham yang bisa turun dari harga belinya sulit dihindarkan dan diprediksi oleh investor. Investasi saham lebih diminati oleh tipe investor yang berkarakter risk taker di mana pola high risk high return dan low risk low return bisa diterapkan.

Investor yang punya sifat konservatif cenderung melakukan investasi di pasar obligasi yang cenderung lebih aman dan tidak sangat fluktuatif Pelaku investasi obligasi sekarang ini didominasi oleh lembaga dana pensiun, lembaga asuransi, manajer investasi pengelola reksadana yang lebih mengutamakan keamanan atas dana yang diinvestasikannya.

Dalam struktur keuangan perusahaan, obligasi mempunyai urutan lebih diutamakan daripada saham untuk mendapatkan haknya apabila perusahaan melakukan likuidasi. Obligasi mempunyai urutan senioritas ketiga. Urutannya adalah sebagai berikut: pajak pemerintah, utang jangka pendek, obligasi (utang jangka panjang), kemudian preffered stock dan yang terakhir adalah common stock.

Oleh karena itu, pemegang obligasi lebih dipentingkan daripada pemegang saham perusahaan publik apabila menuntut hak pembayaran pada saat perusahaan mengalami pailit.

Karakteristik Obligasi

Secara umum obligasi merupakan produk pengembangan dari surat utang jangka panjang. Prinsip utang jangka panjang dapat dicerminkan dari karakteristik atau struktur yang melekat pada sebuah obligasi. Pihak penerbit obligasi pada dasarnya melakukan pinjaman kepada pembeli obligasi yang diterbitkannya. Pendapatan yang didapatkan oleh investor obligasi tersebut berbentuk tingkat suku bunga atau kupon. Selain aturan terse-but telah diatur pula perjanjian untuk melindungi kepentingan penerbit dan kepentingan investor obligasi tersebut.

Adapun karakteristik umum yang tercantum pada sebuah obligasi hampir mirip dengan karakteristik pinjaman utang pada umumnya yaitu meliputi:

Nilai penerbitan obligasi (jumlah pinjaman dana).

Dalam penerbitan obligasi maka pihak emiten akan dengan jelas menyatakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan melalui penjualan obligasi. Istilah yang ada yaitu dikenal dengan “jumlah emisi obligasi”. Apabila perusahaan membutuhkan dana Rp 400 Milyar maka dengan jumlah yang lama akan diterbitkan obligasi senilai dana tersebut. Penentuan besar kecilnya jumlah penerbitan obligasi berdasarkan kemampuan aliran kas perusahaan serta kinerja bisnisnya.

Jangka Waktu Obligasi

Setiap obligasi mempunyai jangka waktu jatuh tempo (maturity). Masa jatuh tempo obligasi kebanyakan berjangka waktu 5 tahun. Untuk obligasi pemerintah bisa berjangka waktu lebih dari 5 tahun sampai 10 tahun. Semakin pendek jangka waktu obligasi maka akan semakin diminati oleh investor karena dianggap risikonya semakin kecil. Pada saat jatuh tempo pihak penerbit obligasi berkewajiban melunasi pembayaran pokok obligasi tersebut.

Tingkat suku bunga.

Untuk menarik investor membeli obligasi tersebut maka diberikan insentif berbentuk tingkat suku bunga yang menarik misalnya 17%, 18% per tahunnya. Penentuan tingkat suku bunga biasanya ditentukan dengan membandingkan tingkat suku bunga perbankan pada umumnya. Istilah tingkat suku bunga obligasi biasanya dikenal dengan nama kupon obligasi. Jenis kupon bisa berbentuk fixed rate dan variable rate untuk alternatif pilihan bagi investor.

Jadwal pembayaran suku bunga

Kewajiban pembayaran kupon (tingkat suku bunga obligasi) dilakukan secara periodik sesuai kesepakatan sebelumnya, bisa dilakukan triwulanan atau semesteran. Ketepatan waktu pembayaran kupon merupakan aspek penting dalam menjaga reputasi penerbit obligasi.

Jaminan
Obligasi yang memberikan jaminan berbentuk aset perusahaan akan lebih mempunyai daya tarik bagi talon pembeli obligasi tersebut. Di dalam penerbitan obligasi sendiri kewajiban penyediaan jaminan tidak harus mutlak. Apabila memberikan jaminan berbentuk aset perusahaan ataupun tagihan piutang perusahaan dapat menjadi alternatif yang menarik investor.

Tujuan Penerbitan Obligasi

Penerbitan obligasi dilakukan oleh perusahaan yang membutuhkan dana, baik untuk ekspansi bisnisnya ataupun untuk memenuhi kebutuhan keuangan perusahaan dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Obligasi pada dasarnya merupakan Surat utang yang ditawarkan kepada publik. Apabila investor berminat, is bisa membeli melalui pihak penjamin (underwriter) atau agen penjual lewat penjualan di pasar perdana, atau melalui broker dealer apabila dibeli melalui pasar sekunder. Dengan membeli obligasi tersebut, pembeli akan mendapatkan imbalan pendapatan tingkat suku bunga (kupon) yang ditawarkan sebelumnya seperti tertulis di dalam prospektus obligasi.

Perusahaan yang menerbitkan obligasi mempunyai beberapa tujuan penting di antaranya:

a. Mendapatkan jumlah dana tambahan yang lebih fleksibel.

Dengan menerbitkan obligasi maka perusahaan diharapkan mampu mendapatkan tambahan dana yang disesuaikan dengan kebutuhan. Jumlah besar kecilnya dana obligasi bisa disesuaikan dengan kinerja keuangan perusahaan misalnya kemampuan pembayaran bunga obligasi, dan pelunasan pokok obligasi pada saat jatuh tempo, juga disesuaikan dengan prospek dari industri bisnis perusahaan di masa mendatang.

Dibandingkan dengan mengajukan pinjaman dana ke bank, keputusan besarnya pinjaman biasanya disesuaikan dengan nilai jaminan (collateral) yang dimiliki perusahaan. Sedangkan menerbitkan obligasi tidal( mesti harus memberikan jaminan, hal ini menjadi daya tarik bagi perusahaan. Dengan menerbitkan obligasi, pihak perusahaan akan lebih fleksibel menentukan besar kecilnya dana yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan pasar (investor) dalam menyerap penerbitan obligasi tersebut serta kemampuan pihak penjamin emisi dalam memberikan komitmen jumlah penerbitan obligasi.

b. Mendapatkan pinjaman dengan tingkat suku bunga fleksibel.

Pihak perusahaan yang menerbitkan obligasi akan mendapatkan dana tambahan dengan tingkat suku bunga yang lebih fleksibel. Proses penentuan tingkat suku bunga (kupon) obligasi ditentukan berdasarkan kemampuan keuangan perusahaan serta memperhatikan kondisi tingkat suku bunga di perbankan. Dibandingkan dengan meminjam dana dari perbankan, penentuan tingkat suku bunganya cenderung berpihak pada kepentingan kreditur (bank). Sedangkan apabila menerbitkan obligasi, proses penentuan tingkat suku bunganya relatif fleksibel disesuaikan dengan kemampuan dan kepentingan penerbit obligasi.

c. Mendapatkan alternatif pembiayaan melalui pasar modal.

Seperti diketahui, obligasi termasuk juga jenis utang jangka panjang. Perusahaan yang kesulitan melakukan pinjaman melalui perbankan bisa mencari alternatif pendanaan melalui pasar modal dengan menerbitkan obligasi sejumlah dana yang dibutuhkan.

Pendapatan Obligasi (Bond Income)

Setiap investasi selalu mengharapkan adanya pendapatan atau penghasilan atas sejumlah dana yang diinvestasikan. Dengan membeli obligasi, investor mengharapkan akan mendapatkan beberapa keuntungan dari investasinya tersebut, yang dikenal dengan istilah yield.

Beberapa jenis pendapatan yang diperoleh dari pembelian obligasi secara umum meliputi:

Nominal Yield (Coupon Yield)

Nominal Yield (Coupon Yield) adalah pendapatan kupon yang didasarkan pada nilai nominal obligasi. Pengertiannya adalah bahwa dalam jumlah nilai obligasi tertentu maka diberikan pendapatan tingkat suku bunga yang hasilnya telah ditentukan sebelumnya. Misalnya dengan nilai obligasi sebesar Rp 1 miliar serta tingkat kupon fixed rate sebesar 15% akan memberikan pendapatan (coupon yield) sebesar Rp 150 juta per tahun. Besaran tingkat nominal yield ini tidak berubah sampai akhir jatuh tempo obligasi tersebut.

Current Yield

Current Yield adalah pendapatan kupon yang didasarkan pada harga pasar obligasi tersebut. Investor yang membeli obligasi dengan nilai nominal Rp 1 miliar bisa mendapatkannya pada pasar sekunder dengan kisaran Rp 900 juta karena kinerja harga obligasi yang menurun. Dengan harga pasar obligasi sebesar Rp 900 juta tersebut serta nominal yield Rp 150 juta, nilai pendapatan sebenarnya (current yield) adalah 16,6% (Rp 150 juta dibagi Rp 900 juta).

Yield To Maturity (YTM)

Ini adalah pendapatan tingkat suku bunga obligasi apabila investor memegang obligasi tersebut sampai periode jatuh tempo. Banyak investor jangka panjang melakukan metode penghitungan pendapatan obligasi berdasar YTM supaya bisa melakukan perbandingan tingkat pendapatan obligasi yang satu dengan yang lain. Secara umum sebuah obligasi memiliki ketiga jenis pendapatan (yield) tersebut di atas. Tetapi pada dasarnya, metode penghitungan yield akan lebih banyak macamnya sesuai.metode investasi dan perdagangan obligasi yang dilakukan oleh investor masing-masing. Ada istilah yield lainnya yaitu misalnya Yield To Call dan lain sebagainya.

Obligasi Negara

Obligasi Negara pada dasarnya merupakan Surat Berharga Pemerintah yang bersifat utang dengan jangka waktu berkisar  di atas satu tahun sampai 20 tahun. Saat ini Obligasi Negara yang pernah diterbitkan  ada 4 macam, yaitu:

  1. Obligasi Negara dengan kupon tetap/fixed rate (FR)
  2. Obligasi Negara dengan kupon mengambang/variable rate (VR)
  3. Obligasi Negara dengan zero kupon (kupon 0%)
  4. Obligasi Negara ritel (ORI) dengan kupon tetap/fixed rate (FR)

Apakah Surat Utang Negara?

Untuk menutupi defisit anggaran diperlukan suatu pembiayaan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun anggaran berikutnya. Di dalam APBN, terdapat dua macam sumber pembiayaan yakni pembiayaan dalan negeri, dan pembiayaan luar negeri bersih.

Diantara beberapa alternatif pembiayaan, penerbitan Surat Utang Negara (SUN) memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Penerbitan SUN juga dapat mengurangi ketergantungan pada pembiayaan luar negeri yang sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya (Undang-undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara Pasal 1).

Surat Utang Negara (SUN) diterbitkan dalam dua bentuk klasifikasi yaitu berdasarkan ada tidaknya warkat serta diperdagangkan atau tidaknya SUN tersebut di pasar sekunder. Surat Utang Negara dengan warkat adalah surat berharga yang kepemilikan-nya berupa sertifikat baik atas nama maupun atas unjuk. Sertifikat atas nama adalah sertifikat yang nama pemiliknya tercantum, sedangkan sertifikat atas unjuk adalah sertifikat yang tidak mencantumkan nama pemilik sehingga setiap orang yang menguasainya adalah pemilik yang sah.

Surat Utang Negara tanpa warkat atau scripless adalah surat berharga yang kepemilikannya dicatat secara elektronis (book-entry system). Dalam hal Surat Utang Negara tanpa warkat, bukti kepemilikan yang otentik dan sah adalah pencatatan kepemilikan secara elektronis. Cara pencatatan secara elektronis dimaksudkan agar pengadministrasian data kepemilikan (registry) dan penyelesaian transaksi perdagangan SUN di Pasar Sekunder dapat diselenggarakan secara efisien, cepat, aman, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Surat Utang Negara yang diperdagangkan adalah SUN yang diperjualbelikan di Pasar Sekunder baik di dalam maupun di luar negeri. Perdagangan dapat dilakukan melalui bursa dan/atau di luar bursa yang biasa disebut over the counter (OTC). Surat Utang Negara yang tidak diperdagangkan adalah SUN yang tidak diperjualbelikan di Pasar Sekunder dan biasanya diterbitkan secara khusus untuk pemodal institusi tertentu, baik domestik maupun asing, yang berminat untuk memiliki Surat Utang Negara sesuai dengan kebutuhan spesifik dari portofolio investasinya.

Surat Utang Negara dan pengelolaannya diatur dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. Di dalam undang-undang tersebut, dijelaskan bahwa penerbitan SUN hanya ditujukan untuk tujuan-tujuan tertentu, dimana jumlah yang akan diterbitkan harus memperoleh persetujuan DPR dan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Bank Indonesia pada setiap tahun anggaran.

Berdasarkan jenisnya, SUN terdiri atas Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan Obligasi Negara. SPN berjangka waktu maksimal 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon dan atau tanpa kupon. Obligasi Negara dengan kupon adalah SUN yang pembayaran bunganya dihitung dengan persentase tertentu atas nilai nominal dan dibayarkan secara berkala. Obligasi Negara dengan pembayaran bunga secara diskonto adalah SUN yang berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dan pembayaran bunganya tercermin secara implisit di dalam selisih antara harga pada saat penerbitan dan nilai nominal yang diterima pada saat jatuh tempo.

Berdasarkan jenis kuponnya, Obligasi Negara dapat dibedakan menjadi Obligasi Berbunga Tetap dan Obligasi Berbunga Mengambang. Obligasi berbunga tetap adalah obligasi dengan tingkat bunga tetap setiap periodenya (fixed rate bond). Obligasi berbunga mengambang adalah obligasi dengan tingkat bunga mengambang (variable rate bond) yang ditentukan berdasarkan suatu acuan tertentu seperti tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

SBI adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan utang jangka pendek dengan sistem diskonto/bunga. Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar dengan berdasarkan sistem lelang. Sejak bulan Juli 2005, Bank Indonesia menggunakan “BI rate” (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate tersebut selanjutnya sebagai instrumen yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti lelang.

Obligasi Negara juga dapat dibedakan berdasarkan denominasi mata uangnya. Pemerintah sampai saat ini telah menerbitkan Obligasi Negara berdenominasi Rupiah dan US Dollar.

Obligasi Negara berbeda dengan instrumen investasi lainnya. Obligasi Negara memiliko risiko gagal bayar sangat kecil (hampir tidak ada), baik kupon maupun pokok obligasinya. Obligasi Negara merupakan satu-satunya instrumen investasi yang (hampir) bebas risiko gagal bayar karena pembayaran bunga/kupon dan pokoknya dijamin oleh undang-undang. Oleh karena itu, setiap tahun pemerintah menganggarkan pembayaran kupon maupun pokok Obligasi Negara dalam APBN.

Mengapa Perlu Penerbitan Surat Utang Negara?

Surat Utang Negara diterbitkan dengan tujuan untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan menutup kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian antara arus kas penerimaan dan pengeluaran dari Rekening Kas Negara dalam satu tahun anggaran. Saat ini, secara khusus, penerbitan Surat Utang Negara bertujuan antara lain untuk program rekapitalisasi bank umum, dan pembiayaan kredit program. Manajemen portofolio utang negara bertujuan untuk meminimalkan biaya bunga utang pada tingkat risiko yang dapat ditoleransi. Untuk itu, portofolio utang negara terutama portofolio Surat Utang Negara harus dilakukan secara efisien berdasarkan praktek-praktek yang berlaku umum di berbagai negara. Manajemen portofolio tersebut meliputi penerbitan, pembelian kembali sebelum jatuh tempo (buyback), dan pertukaran (bond swap) sebagian Surat Utang Negara yang beredar.

Penerbitan Surat Utang Negara juga ditujukan sebagai instrument fiskal, instrument investasi, dan instrumen pasar keuangan. Sebagai Instrumen Fiskal, SUN diharapkan dapat menggali potensi sumber pembiayaan APBN yang lebih besar dari investor pasar modal. Sebagai Instrumen Investasi penerbitan SUN diharapkan dapat menyediakan alternatif investasi yang relatif bebas risiko gagal bayar dan memberikan peluang bagi investor dan pelaku pasar untuk melakukan diversifikasi portofolionya guna memperkecil risiko investasi. Sedang sebagai Instrumen Pasar Keuangan, SUN diharapkan dapat memperkuat stabilitas sistem keuangan dan dapat dijadikan acuan (benchmark) bagi penentuan nilai instrumen keuangan lainnya.

Bagaimana Surat Utang Negara Diperdagangkan?

Pembelian SUN dalam hal ini Obligasi Negara, dapat dilakukan baik di pasar primer maupun di pasar sekunder. Pasar primer adalah kegiatan penawaran dan penjualan obligasi untuk pertama kali, sedangkan pasar sekunder ialah kegiatan perdagangan selanjutnya atas obligasi yang telah dijual pada pasar primer. Penerbitan Obligasi Negara pada umumnya dilaksanakan melalui lelang yang dapat diikuti oleh peserta lelang yang telah memenuhi persyaratan.

Peserta lelang dapat menyampaikan penawaran harga secara kompetitif dan atau non kompetitif. Penawaran secara kompetitif artinya investor menyampaikan volume pembelian pada perkiraan yield/tingkat bunga yang dikehendaki serta volume penawarannya. Sedangkan penawaran secara non kompetitif artinya investor hanya menyampaikan volume Obligasi Negara yang akan dibeli. Pemerintah selanjutnya menyampaikan lelang setelah mempertimbangkan beberapa faktor antara lain referensi kisaran yield yang dimiliki Pemerintah, kebutuhan pendanaan Pemerintah, dan juga kondisi pasar saat ini maupun ekspektasi di masa mendatang.

Investor yang menyampaikan penawaran secara kompetitif dan dinyatakan menang lelang, wajib membayar sesuai dengan tingkat bunga yang disampaikan saat lelang. Investor yang menyampaikan penawaran secara non kompetitif dan dinyatakan menang, wajib membayar sebesar rata-rata tertimbang tingkat bunga penawaran kompetitif yang dimenangkan. Lelang Obligasi Negara di pasar primer pada saat ini diselenggarakan melalui sistem yang dimiliki oleh Bank Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai agen lelang Pemerintah.

Obligasi Negara yang telah dijual di pasar primer selanjutnya diperdagangkan di pasar sekunder. Perdagangan di pasar sekunder umumnya dilakukan di luar bursa atau dikenal juga dengan over the counter (OTC) market. Calon pembeli dapat menunjuk broker untuk mencari penjual Obligasi Negara yang dikehendaki. Atau bisa juga dilakukan tanpa melalui broker, namun harus menemukan sendiri pihak lain yang ingin menjual Obligasi Negara yang dikehendaki. Dalam berinvestasi pada Obligasi Negara, investor dapat memilih jenis dan periode jatuh tempo Obligasi Negara yang diinginkan untuk mengurangi resiko pasar akibat perubahan tingkat bunga dan tingkat inflasi.

Mekanisme pembelian atau penjualan obligasi negara di pasar sekunder secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Calon pembeli membuka rekening kas pada suatu bank untuk menerima pembayaran kupon dan atau pokok jatuh tempo.
  2. Calon pembeli membuka rekening surat berharga pada lembaga keuangan yang terdaftar sebagai sub registry Bank Indonesia, untuk mencatat kepemilikan atas Obligasi Negara.
  3. Negosiasi harga antara penjual dan pembeli. Negosiasi ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui broker.
  4. Apabila telah terjadi kesepakatan baik dari sisi harga maupun dari sisi waktu penyelesaian transaksi, pembeli dan penjual memerintahkan sub registry bagi investor non perbankan atau Bank Indonesia bagi investor perbankan untuk menyelesaikan transaksi.

Bagaimana Risiko Surat Utang Negara?

Penerbitan Surat Utang Negara (SUN) mengandung beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Risiko-risiko tersebut antara lain :

  1. Risiko Kesinambungan Fiskal. Nilai utang negara yang besar berpotensi membahayakan kesinambungan anggaran Pemerintah. Untuk itu, pemerintah harus memperhatikan nilai debt to export ratio, debt to service ratio dan ratio of short term debt to reserve.
  2. Risiko Nilai Tukar. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dapat mengakibatkan tambahan beban pembayaran pokok utang dan bunga.
  3. Risiko Perubahan Tingkat Bunga. Sebagian dari total utang negara merupakan utang dengan bunga mengambang (variable rate), sehingga apabila terjadi kenaikan tingkat bunga pasar, akan mengakibatkan kenaikan pada nilai kewajiban pembayaran bunga dari anggaran pemerintah. Risiko akibat perubahan tingkat bunga dapat terjadi apabila Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) pada saat kondisi pasar sedang memburuk (bearish), yang antara lain ditandai oleh kenaikan suku bunga secara tajam sehingga biaya utang (yield) menjadi lebih tinggi.
  4. Risiko Pembiayaan Kembali. Pelunasan Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh tempo dengan volume yang cukup besar dapat mengakibatkan timbulnya risiko berupa lebih tingginya biaya peminjaman baru.
  5. Risiko Operasional. Risiko kegagalan terjadi jika operasional pengelolaan Surat Utang Negara (SUN) tidak dilakukan dengan baik, baik dari sisi sumber daya manusia maupun dari sisi kelembagaannya, antara lain kelengkapan prosedur operasi baku (standard operating procedures), sistem pengelolaan risiko, dan sistem informasi manajemen.

Untuk memperkecil risiko penerbitan Surat Utang Negara (SUN), pemerintah melalui Bapepam melakukan penataan struktur Surat Utang Negara (SUN). Langkah-langkah yang diambil dalam rangka penataan tersebut yaitu :

  1. Peninjauan terhadap price discovery atau mekanisme dan metode penentuan nilai pasar wajar.
  2. Perbaikan edukasi calon investor yang dilakukan bersama-sama dengan Self-Regulatory Organization (SRO) seperti BEJ, BES serta dengan asosiasi-asosiasi terkait lainnya.
  3. Perbaikan master repo agreement atau aturan baku terhadap transaksi-transaksi yang dilakukan di bursa sehingga mampu menghilangkan perbedaan perlakuan antara bank dan lembaga bukan sekuritas.

Strategi jangka pendek dan menengah pengelolaan SUN pada saat ini adalah menurunkan refinancing risk terutama periode 2007-2009, memperpanjang rata-rata jangka waktu jatuh tempo (average maturity) SUN, menyeimbangkan struktur jatuh tempo portofolio SUN sehingga selaras dengan perkembangan anggaran negara dan daya serap pasar, serta mengembangkan dan meningkatkan likuiditas pasar sekunder SUN sehingga dalam jangka panjang dapat menurunkan biaya pinjaman (cost of borrowing)

Kelebihan Investasi Obligasi

Jenis obligasi yang dikeluarkan oleh negara atau municiple bonds memiliki bunga tetap tahunan pada kisaran 5%-20%. Jenis obligasi negara pada saat ini ada sekitar 49 dengan bunga tetap tahunan 7% sampai 15%. Jumlah tersebut masih lebih tinggi dari bunga deposito tahunan pada saat ini yang paling tinggi 7,5%.

Investasi pada obligasi hampir mirip dengan orang berinvestasi dalam bentuk deposito, dalam arti akan mendapatkan keuntungan berupa bunga yang besarnya sudah ditetapkan sebelumnya. Kelebihan investasi pada obligasi selain keuntungan berupa bunga, ada peluang mendapatkan keuntungan dari perubahan harga beli dan harga pada waktu dijual.

Selisih antara harga pada saat beli dan harga saat menjual itulah keuntungan yang sering disebut sebagai capital gain.

Dari 49 jenis obligasi negara sebanyak 23 atau 46% mempunyai nilai di atas pari atau nilai nominal semula, dan tertinggi mencapai 123,2. Jika investor membeli obligasi pada saat penawaran perdana berarti selain keuntungan berupa bunga, mendapatkan keuntungan berupa capital gain sebesar 23,2%.

Kelebihan obligasi lainnya dibandingkan deposito adalah obligasi merupakan investasi yang lebih fleksibel karena mudah diperjualbelikan.

Faktor risiko atau keamanan dalam berinvestasi menjadi pertimbangan utama bagi seorang investor. Di antara berbagai jenis obligasi, obligasi negara sering disebut sebagai risk free instrument. Dikatakan bebas risiko mengingat selama ini pemerintah belum pernah mengemplang dari kewajibannya yang sudah jatuh tempo.

Jadi selama ini track record pemerintah dalam hal assurance (jaminan) nama besarnya masih teruji dan terjaga, kecuali pada waktu krisis tahun 1950/60 yang terpaksa ada pemotongan nilai uang dan memengaruhi penurunan nilai obligasi.

Pemerintah daerah termasuk Pemerintah Provinsi Jateng saat ini berupaya menjadikan obligasi pemerintah daerah sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana upaya yang dapat dilakukan supaya obligasi pemerintah daerah yang sebenarnya mempunyai kelebihan sebagaimana obligasi pemerintah menjadi sesuatu yang menarik dan diminati oleh para investor.

Investor selalu dalam mengambil keputusan berinvestasi secara rasional akan menjadikan kinerja obligor atau pihak yang mengeluarkan obligasi sebagai pertimbangan utama, termasuk pada obligor pemerintah daerah.

Pemerintah daerah selain mempunyai badan usaha milik daerah, memiliki beberapa program pembangunan yang bersifat cost recovery atau secara finansial menciptakan pendapatan, antara lain jalan tol, air bersih, persampahan, sanitasi, dan program lainnya.

Para investor yang mempunyai pertimbangan cermat akan mempertimbangkan dana hasil obligasi digunakan untuk program apa oleh obligor. Apabila obligor atau pemerintah menggunakan dana obligasi untuk membiayai program yang bersifat cost recovery tersebut niscaya akan memberikan keyakinan dan kedamaian pada para investor, yakni dana yang diinvestasikan akan dapat kembali dan mampu memberikan keuntungan yang cukup di atas keuntungan bunga deposito. Keuntungan sedikit tak mengapa tetapi ada kepuasan tersendiri dalam berinvestasi.

Tentang ORI

ORI adalah merupakan sarana investasi  untuk skala kecil dan menengah dengan klasifikasi ritel. Dengan membeli ORI, mengandung maksud investor telah  melakukan deversifikasi delam membangun portofolio investasinya secara bijaksana. Di pihak Pemerintah, Pemerintah menciptakan sarana berinvestasi  bagi warga negaranya secara luas, yang berati memberikan penghasilan pada tataran masyarakat investor  secara luas sekaligus memperkenalkan sarana investasi selain deposito. ORI memungkinkan mendapat hasil lebih tinggi dari deposito dan ada kemungkinan capital gain serta terhindar dari risiko default atau gagal bayar. Pembelian dan penjualan kembali tidak akan menjadi masalah, karena agen penjualan akan menampung jika investor ingin menjual  kembali.

Keuntungan Membeli ORI

Keuntungan yang bakal diraih jika membeli obligasi negara pada umumnya termasuk ORI adalah mendapatkan caital gain dan bunga serta terhindar dari kemungkinan default. Untuk mendapat capital gain  jika tingkat bunga pasar lebih rendah dari tingkat bunga (kupon) obligasi negara. Capital gain akan muncul apabila investor menjual obligasinya sebelum jatuh tempo.

Mengenai tingkat   bunga/kupon akan lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito  Sebagai contoh ORI yang ditawarkan sekarang ini dengan tingkat bunga 9,5% sementara bunga deposito berkisar 6% s/d 7%. Yang dimaksud default adalah jika Pemeritah mengalami gagal bayar baik atas bunga maupun kupon/bunganya
Keuntungan khusus atas ORI adalah :

1. dapat dibeli dengan skala kecil dengan minimum Rp.5 juta,-

2. Mudah diperjualbelikan melalui agen penjualan yang ditunjuk. Hal ini menunjukkan likuiditas ORI sangat tinggi.

3.Bunga /imbal hasil dibayarkan setiap bulan

Kerugian Membeli ORI

Kerugian membeli ORI,  adalah timbulnya capital lost jika investor menjual pada saat harga  menurun. Harga ORI akan menurun apabila tingkat bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia dan bunga deposito bergerak naik.Apabila obligasi tidak dijual pada saat bunga naik , yang berharti harga jual lebih rendah dari harga beli investor tidak mngalami kerugian .Sekiranya investor memutuskan untuk tidak menjual dan tetap menyimpan sampai jatuh tempo , maka akan dapat pelunasan 100% dari pokok. Hal ini investor tidak mengalami kerugian.

Memang dapat dipahami, bagi investor yang aktif kesempatan  untuk mendapat hasil investasi yang

opitimal akan tidak tercapai, sebaliknya bagi investor yang pasif hal semacam tersebut tidak akan menjadi masalah.

Pembelian dan Penjualan

Pada dasarnya pembelian dan penjualan ORI dapat dilakukan melalui agen yang ditunjuk yaitu :
1. Agen  penjualan melalui perbankan: Bank Mandiri, Bank BRI, Panin Bank,Bank BII, Citibank NA, Bank NISP,Bank BNI, Bank BCA,Bank Danamon, Bank Permata, Bank Lippo, Bank Bukopin, HSBC, Bank Niaga,  dan Bank Mega.

2. Agen penjualan melalui perusahaan sekuritas: Trimegah Securities, Danareksa Securities, dan Reliance securities

Dari agen tersebut akan mendistrbusikan penjualannya melalui cabang-cabang yang dimiliki yang tersebar di wilayah Indonesia. Dengan penyebaran cabang agen penjualan seperti tersebut maka semestinya tidak mengalami kesulitan untuk membeli di pasar perdana. Sekiranya berminat maka sebaiknya dihubungi cabang terdekat untuk mencari informasi  awal tata cara  pembeliannya.

Daftar Istilah SUN (Surat Utang Negara)

Accrued Interest, jumlah kupon (bunga) obligasi yang dihitung dari sejak pembayaran kupon terakhir sampai dengan tanggal setelmen.

Adjusted Gross Income, pendapatan yang menjadi dasar individu atau rumah tangga dalam menghitung federal income tax.

Agen Lelang Surat Utang Negara, pihak yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk melaksanakan lelang Surat Utang Negara di Pasar Perdana.

Agen Fiskal, agen yang ditunjuk untuk melakukan pencatatan kepemilikan (registry) dan melakukan pembayaran bunga dan pokok obligasi.

Allotment, penetapan alokasi Obligasi Negara yang diperoleh.

APBN Penyesuaian, APBN yang disesuaikan volumenya sebagai akibat perubahan asumsi makro. Penyesuaian ini tidak memerlukan pengesahan Undang-undang, namun cukup dibicarakan dengan DPR.

APBN Perubahan, APBN tahun berjalan yang pada akhir masa tersebut dilakukan perubahan, dan perubahan ini memerlukan pengesahan oleh pemerintah bersama DPR dalam bentuk Undang-Undang (UU APBN Perubahan). Dahulu ABPN Perubahan ini dikenal dengan nama APBN-TP.

Arranger dan Agen Penjual Obligasi Negara, pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk melaksanakan Book-building dan penjualan Obligasi Negara di pasar perdana.

Asset to Bond Swap, pertukaran antara aset yang dikelola oleh BPPN dengan obligasi negara yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi perbankan.

Automatic Bidding System, sistem penawaran lelang secara otomatis dengan menggunakan sarana lelang elektronis yang tersambung (on line). Bidder memasukan penawarannya dan oleh sistem secara otomatis akan merekam dan mengurutkan atas dasar urutan waktu.

Average Maturity, rata-rata jangka waktu jatuh tempo obligasi.

Benchmark yield curve, kurva yang menggambarkan hubungan antara tingkat keuntungan (yield) pada berbagai jatuh tempo dari surat berharga tanpa risiko. Kurva ini menjadi dasar acuan dalam proses penentuan harga obligasi dan aset finansial lainnya serta pembentuk ekspektasi pasar tentang suku bunga dimasa depan.

Bid-to-cover ratio, rasio antara jumlah penawaran yang masuk dengan jumlah penawaran yang dimenangkan.

BI-SKRIP (Bank Indonesia-Sistem Kliring, Registrasi, Informasi dan Penatausahaan Surat

Berharga), sistem yang digunakan oleh Bank Indonesia untuk menatausahakan Obligasi Negara, yang terdiri dari (i) pencatatan kepemilikan; (ii) setelmen transaksi, dan; (iii) pembayaran bunga dan pokok

Obligasi Negara.

Book Entry Registry (BER), sistem pencatatan obligasi tanpa warkat dalam suatu jurnal elektronis.

Bookbuilding, kegiatan mengumpulkan pemesanan pembelian dari para investor.

Buyback, pembelian kembali obligasi (Surat Utang Negara) sebelum jatuh tempo.

Capital Gain, keuntungan yang berasal dari selisih harga jual dan harga beli dari suatu aset finansial.

CAR (Capital Adequacy Ratio), merupakan ketentuan pemenuhan penyediaan modal minimum bank-bank yang saat ini sebesar 8%. CAR adalah rasio antara modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR).

Central Registry, pihak yang bertanggung jawab untuk menyimpan catatan kepemilikan dari obligasi Pemerintah, pembayaran kupon serta menatausahakan perpindahan hak kepemilikan obligasi pemerintah. Saat ini Bank Indonesia bertindak sebagai Central Registry.

Clean price, harga obligasi dikurangi accrued interest.

Code of conduct, standar perilaku yang merupakan aturan tertulis yang harus dipatuhi oleh para anggota suatu perkumpulan dalam menjalankan kegiatannya.

Competitive bid auction, sistem lelang dimana tiap-tiap peserta lelang menyampaikan harga penawaran (bid price) masing-masing.

Continuous Auction, mekanisme lelang secara berkesinambungan yang akan berhenti apabila ada kesesuaian antara harga bid-offer.

Cost of funds, biaya yang dikeluarkan bank atas dana yang dihimpunnya sebelum diperhitungkan reserve requirement.

Credit Risk, risiko dimana penerbit obligasi tidak mampu membayar bunga dan pokok obligasi pada saat jatuh tempo. Credit risk ini sering juga disebut Default risk.

Cross currency swaps, pertukaran dua valuta atau mata uang yang berbeda dengan perjanjian kedua belah pihak akan mempertukarkannya kembali sebesar nilai nominalnya pada saat jatuh tempo.

Day count, jumlah hari yang digunakan dalam menghitung accrued interest obligasi.

Debt Switching, penukaran obligasi yang telah beredar dengan obligasi jenis lain yang memiliki jangka waktu jatuh tempo dan/atau kupon yang berbeda.

Defisit Anggaran, selisih negatif antara Penerimaan Negara dengan Belanja Negara.

Dirty price, harga obligasi yang mengandung accrued interest, sering juga disebut full price.

Discount Bonds (zero coupon bonds), obligasi yang tidak memberikan kupon atau bunga, dijual dengan diskonto dan pada saat jatuh tempo obligasi dibayarkan atau dilunasi sesuai dengan nilai nominalnya.

Diskonto obligasi, selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi, tidak termasuk bunga berjalan (accrued interest) untuk obligasi dengan kupon.

Divestasi, pelepasan kepemilikan (modal/saham) pada suatu perusahaan.

Due diligence, pemeriksaan secara mendalam terhadap suatu aspek dari institusi tertentu.

Duration, rata-rata tertimbang jangka waktu jatuh tempo obligasi. Duration digunakan untuk mengukur volatilitas obligasi, semakin kecil duration semakin tinggi tingkat volatilitas obligasi.

Federal tax, kebijakan yang bertujuan untuk menjamin bahwa individu, trust, estates, dan perusahaan yang kaya membayar paling tidak sejumlah pajak pendapatan.

Financial market, pasar keuangan, kelompok pasar dimana instrumen jangka pendek dan jangka panjang diperdagangkan, meliputi pasar uang dan pasar modal.

Fixed Rate Bonds, Obligasi yang memiliki suku bunga tetap sampai dengan jatuh tempo. Bunga dibayarkan setiap enam bulan pada tanggal 15 pada bulan yang telah ditentukan.

Flat yield curve, adalah kurva dimana yield obligasi jangka pendek sama dengan yield obligasi jangka panjang.

Floating rate bonds (variable rate bonds), obligasi yang tingkat bunganya disesuaikan secara periodik berdasarkan tingkat bunga Treasury Bills atau rata-rata deposito berjangka bank-bank tertentu. Obligasi bunga variable yang diterbitkan pemerintah dalam rangka rekap suku bunganya ditetapkan setiap 3 bulan berdasarkan tingkat bunga SBI 3 bulan.

Foreign currency loan, pinjaman dalam bentuk valuta asing.

Forward foreign exchange contract, suatu kontrak atau kesepakatan penyerahan kemudian sejumlah valuta asing atas suatu transaksi (underlying) pada periode tertentu yang disepakati.

Gross income, total pendapatan individu sebelum pengurangan (deductions) dan pengecualian (exclusions).

Harga Beragam (Multiple Price), harga yang dibayarkan oleh masing-masing pemenang lelang sesuai dengan harga penawaran yang diajukannya.

Harga indikatif, harga rata-rata Obligasi Negara di pasar sekunder dalam periode 1 (satu) minggu.

Harga Setelmen, harga yang harus dibayarkan atas lelang Surat Utang Negara yang dimenangkan.

Hedge Bonds, obligasi yang suku bunganya ditetapkan berdasarkan tingkat bunga SIBOR (Singapore interbank offered rate) 3 bulan + 2% pada pokok yang diindeks dengan perubahan kurs rupiah terhadap US$. Obligasi ini dimaksudkan untuk menutup posisi devisa neto (net open position) bank-bank rekap.

Holding period, masa kepemilikan suatu obligasi yang dihitung sejak pembeliannya.

Humped-backed yield curve, adalah kurva dimana yield obligasi mengalami fluktuasi.

INDO-14, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah RI dengan denominasi USD. Obligasi ini diterbitkan pada tanggal 3 Maret 2004, dengan kupon sebesar 6.75% dan jatuh tempo pada tanggal 10 Maret 2014, jumlah nominal yang diterbitkan adalah sebesar USD 1,00.

Indonesia Goverment Securities Trading System, sistem perdagangan Surat Utang Negara secara elektronik yang digunakan dalam perdagangan Surat Utang Negara di pasar sekunder oleh pedagang Surat Utang Negara.

Inflasi, persentase kenaikan harga umum barang dan jasa dalam suatu periode tertentu.

Instrumen investasi pendapatan tetap (fixed income asset), surat berharga yang menawarkan pendapatan yang tetap dari waktu ke waktu. Di Indonesia surat berharga dimaksud (biasanya obligasi) ditawarkan perusahaan sekuritas sebagai produk reksadana pendapatan tetap.

Inter Dealer Market, pasar antar dealer pedagang Surat Utang Negara.

Interest rate swap, suatu perjanjian dimana dua pihak (disebut counterparties) membuat kesepakatan untuk mempertukarkan pembayaran bunga secara periodik.

Investment portfolio account (rekening portofolio investasi), rekening yang dipergunakan untuk mencatat obligasi pemerintah yang dimiliki bank dalam portofolio investasi/aset-nya dengan nilai historis (historical price).

Kupon, besarnya bunga yang dibayarkan secara reguler, yang dinyatakan dalam persentase terhadap nilai nominal obligasi.

Lelang Surat Utang Negara, penjualan Surat Utang Negara dengan cara pengajuan penawaran pembelian secara kompetitif maupun nonkompetitif dalam suatu periode waktu penawaran yang telah ditentukan dan diumukan sebelumnya.

Loan to Deposit Ratio (LDR), ratio antara kredit yang diberikan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh perbankan.

Market Expected Yield, hasil yang diharapkan oleh pasar atas suatu surat berharga (misalnya obligasi pemerintah).

Market maker (penggerak pasar), lembaga keuangan yang bertindak sebagai penggerak pasar dengan memberikan kuotasi harga dua arah (bid and offer prices) dan setiap saat siap menjual dan membeli.

Mismatch exposure, ketidaksesuaian antara sisi liabilities dan asset bank.

Multiple price auction, sistem lelang dimana pemenang lelang akan membayar harga surat berharga sesuai dengan harga penawaran (bid price) yang diajukannya.

Multiple Price, metode harga beragam, yaitu metode penentuan pemenang lelang dimana harga yang dibayarkan oleh masing-masing pemenang sesuai dengan harga penawaran yang diajukannya.

Negative spread, (dalam perspektif bank) selisih minus antara biaya dana dengan pendapatan bunga.

Non competitive bid auction, sistem lelang dimana sebagian peserta lelang tidak menyampaikan harga penawaran dan akan menerima atau membayar berdasarkan harga rata-rata hasil lelang dari competitive bidder.

Obligasi Negara (ON), Surat Utang Negara (obligasi) dalam mata uang rupiah dengan kupon atau dengan pembayaran bunga secara diskonto, berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan, dan pada saat jatuh tempo dilunasi sebesar nilai nominalnya.

Obligasi Negara, Surat Utang Negara yang berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara periodik dan/atau dengan pembayaran bunga secara diskonto.

Open market operation, merupakan instrumen kebijakan moneter untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dalam sistem perbankan melalui penjualan atau pembelian surat-surat berharga.

Outliers, istilah yang menggambarkan yield dari transaksi perdagangan yang secara signifikan berbeda dari tingkat yield yang umum dan wajar terjadi di pasar sekunder dalam waktu tertentu.

Outright transaction, Transaksi jual-beli obligasi tanpa kewajiban membeli atau menjual kembali obligasi tersebut. Kebalikan dari transaksi repo.

Outright, transaksi jual-beli obligasi secara lepas tanpa kewajiban membeli atau menjual kembali obligasi tersebut.

Oversubscribed, suatu keadaan dimana permintaan dari jenis sekuritas yang baru diterbitkan melebihi jumlah yang ditawarkan.

Over-the-Counter, pasar Obligasi Negara yang dilakukan pelaku pasar melalui perdagangan di luar bursa.

Paperless (scriptless), sekuritas atau surat berharga tanpa warkat.

Par to par, pertukaran obligasi (fixed rate menjadi variable rate) yang dilakukan berdasarkan nilai nominalnya masing-masing.

Pasar Perdana Internasional, kegiatan penawaran dan penjualan Obligasi Negara dalam valuta asing di luar wilayah Indonesia untuk pertama kali.

Pasar Perdana, kegiatan penawaran dan penjualan Surat Utang Negara untuk pertama kali.

Pasar Sekunder, kegiatan perdagangan Surat Utang Negara yang telah dijual di pasar perdana.

Pelaksana Penatausahaan Surat Utang Negara, pihak ditunjuk oleh Pemerintah untuk melakukan kegiatan pencatatan kepemilikan, kliring dan setelmen, serta agen pembayar bunga dan pokok Surat Utang Negara.

Pemesanan Pembelian Kompetitif, pemesanan pembelian dengan mencantumkan volume dan tingkat yield yang diinginkan pemesan.

Pemesanan Pembelian Non Kompetitif, pemesanan pembelian dengan mencantumkan volume tanpa tingkat yield yang diinginkan pemesan.

Penawaran Pembelian Kompetitif, pengajuan penawaran pembelian dengan mencantumkan volume dan yield yang diinginkan penawar.

Penjatahan, penetapan alokasi Obligasi Negara yang diperoleh setiap pemesan seuai dengan hasil penjualan.

Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara, merupakan suatu Self Regulatory Organization (SRO) yang didirikan sejak Nopember 2002 untuk menyelenggarakan pasar antar dealer pedagang Surat Utang Negara, berdasarkan sistem perdagangan dan kode etik yang telah disepakati oleh seluruh anggota.

Peserta Lelang, pihak yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk dapat ikut serta dalam lelang Surat Utang Negara.

Positive yield curve (normal yield curve), adalah kurva dimana yield obligasi jangka pendek lebih rendah dari obligasi jangka panjang dan disebut negative atau inverted yield curve apabila terjadi sebaliknya.

Primary dealer (dealer utama), lembaga keuangan yang ditunjuk oleh pemerintah, untuk secara aktif melakukan penawaran (bid) obligasi pemerintah di pasar perdana. Primary Dealer dapat juga berperan sebagai penggerak pasar (market maker) di pasar sekunder.

Primary dealer system, suatu sistem perdagangan di pasar perdana dengan menggunakan suatu panel dealer utama (primary dealer).

Primary market (pasar primer), kegiatan penawaran dan penjualan surat berharga (termasuk obligasi pemerintah) untuk pertama kali.

Prospektus, informasi tertulis mengenai penawaran obligasi kepada publik dengan tujuan agar pihak membeli obligasi yang dimaksud.

Public offering auction system, penawaran umum obligasi dengan menggunakan sistem lelang.

Redemption of debt, pelunasan kembali surat utang sebelum atau setelah jatuh tempo dengan harga diskon (at discount) atau premium (at premium).

Redemption value, nilai pokok obligasi yang harus dibayarkan kepada pemegang obligasi pada saat obligasi jatuh tempo.

Reference rate, tingkat bunga yang dijadikan sebagai patokan atau referensi untuk menentukan bunga obligasi, misalnya tingkat bunga SBI-1 bulan atau 3-bulan, Sibor/Libor. Reference rate juga sering disebut sebagai benchmark.

Refinancing Risk, risiko dimana pemerintah tidak mampu memperoleh dana dari hasil penjualan obligasi baru yang dibutuhkan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo.

Refunding bonds, obligasi yang diterbitkan dalam rangka melunasi obligasi yang akan jatuh tempo.

Rekening Kas Negara, rekening yang menampung seluruh penerimaan negara baik yang bersumber dari perpajakan, non perpajakan, maupun hibah dan seluruh pengeluaran negara dalam rangka penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.

Remote Trading, sistem perdagangan jarak jauh yang dapat dilakukan oleh Anggota Bursa dari kantor Anggota Bursa masing-masing dimana setiap order langsung dikirim ke sistem perdagangan tanpa perlu memasukkan order melalui lantai bursa.

Reopening, Penerbitan kembali seri obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya.

Repo, yang juga disebut RPs atau buybacks, sering digunakan sebagai instrumen investasi pasar uang dan sebagai instrumen kebijakan moneter oleh Bank Sentral.

Reprofiling, program penawaran pertukaran (exchange offer) dengan maksud untuk menata ulang struktur jatuh tempo obligasi agar menjadi lebih seimbang dan mengurangi tekanan fiskal di masa mendatang.

Repurchase Agreement (Repo), persetujuan antara penjual dan pembeli surat berharga dimana penjual menyetujui untuk membeli kembali surat berharga tersebut dengan harga dan dengan jangka waktu yang telah disepakati.

Revenue bonds, obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek atau perusahaan tertentu dimana pemilik obligasi dijamin dengan hasil (revenue) proyek yang dibiayai dengan obligasi tersebut. Obligasi ini adalah salah satu jenis dari municipal bonds.

Reverse repo, pembelian surat berharga oleh satu pihak (pembeli) dari pihak lainnya (penjual) dengan perjanjian akan dijual kembali dengan harga dan jangka waktu yang telah disepakati.

Risk exposure, merupakan potensi risiko yang ada dari struktur portofolio yang dimiliki.

Risk management, pengelolaan risiko yang mungkin timbul dari penerbitan Surat Utang Negara terutama yang berkaitan dengan risiko pendanaan, risiko gagal bayar, risiko operasional, risiko pasar.

Rounding method, Cara pembulatan atas hasil penghitungan, misalnya pembulatan penuh (simple rounding) atau pembulatan dengan desimal atau fraksi.

Secondary market (pasar sekunder), kegiatan perdagangan surat berharga (termasuk obligasi negara) yang telah dijual di pasar primer.

Sektor, pengelompokan obligasi berdasarkan time to maturity-nya.

Setelmen, penyelesaian transaksi Surat Utang Negara yang terdiri dari setelmen dana dan setelmen kepemilikan Surat Utang Negara.

Single price/uniform price auction, sistem lelang dimana pemenang lelang akan membayar surat berharga sesuai dengan harga rata-rata penawaran.

Stapled Bond *) , obligasi yang digolongkan ke dalam program pertukaran obligasi lama dengan 2 (dua) jenis obligasi baru, dimana obligasi jenis pertama memberikan kupon yang lebih tinggi dari obligasi jenis kedua, namun rata-rata tertimbang kupon kedua jenis obligasi tersebut sama dengan kupon obligasi rekap yang akan dipertukarkan. Contoh: obligasi Seri FR0001 ditukarkan dengan Seri FR0006 dan FR0007. Seri FR0003 ditukarkan dengan FR0008 dan FR0009.

Stop-out Rate, penjualan Surat Utang Negara berdasarkan target jumlah Surat Utang Negara yang akan dijual Pemerintah.

Straight bonds, obligasi yang dapat dilunasi oleh atau dijual kembali kepada pemiliknya sebelum jatuh tempo.

Sub Registry, lembaga yang ditunjuk Bank Indonesia untuk melakukan seluruh kegiatan kliring, setelmen termasuk pencatatan dan pengalihan kepemilikan obligasi pemerintah dan melakukan fungsi sebagai agen pembayar untuk pemilik surat berharga yang tercatat pada Sub Registry.

Surat Perbendaharaan Negara (SPN), Surat Utang Negara (obligasi) dalam mata uang rupiah tanpa kupon yang dijual secara diskonto, berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan, dan pada saat jatuh tempo dilunasi dengan nilai nominalnya.

Surat Utang Negara (SUN), surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya.

Syndicate underwriting, penjaminan emisi dalam bentuk sindikasi yang terdiri dari lead-underwriter, managing underwriter dan co-underwriter.

Tax exemption, pembebasan dari kewajiban pembayaran pajak atas obyek pajak tertentu berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Tax washing, tindakan untuk menghindari pembayaran pajak oleh wajib pajak, dengan memanfaatkan individu atau institusi yang memperoleh fasilitas tax exemption.

Taxable income, pendapatan bersih (laba bersih) sebelum dikurangi pajak.

Tenor, jangka waktu jatuh tempo obligasi.

Time to maturity, waktu yang tersisa (umumnya dalam tahun) hingga suatu obligasi dilunasi atau jatuh tempo.

Trading portfolio account (rekening portofolio perdagangan), rekening yang dipergunakan untuk mencatat obligasi pemerintah yang dimiliki bank dalam portofolio investasi/aset-nya dengan harga pasar (marked to market) dan siap untuk diperdagangkan.

Transaksi Outright, transaksi obligasi jual beli obligasi tanpa kewajiban untuk menjual atau membeli kembali.

Treasuries, surat pengakuan hutang Pemerintah Federal AS yang dijamin pembayarannya (full faith and credit), diterbitkan dalam berbagai jangka waktu jatuh tempo dan dapat diperdagangkan. Surat Berharga ini terdiri dari Treasury Bills, Treasury Notes dan Treasury Bonds.

Treasury Bills, surat berharga yang berjangka waktu satu tahun atau kurang dijual dengan cara diskonto (at discount) dari nilai nominalnya melalui lelang.berjangka pendek yang diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) dengan diskonto dan pada saat jatuh tempo dibayarkan sesuai dengan nilai nominalnya.

Treasury Bonds (T-Bonds), surat berharga berjangka waktu panjang yang jatuh temponya 10 tahun atau lebih yang diterbitkan dengan denominasi minimum USD 1.000.

Treasury Notes(T-Notes), surat berharga berjangka waktu tempo menengah yaitu satu sampai dengan 10 tahun dijual dengan cara langsung (cash subscription) melalui penukaran utang pemerintah yang masih berjalan atau yang jatuh tempo, atau dengan melalui cara lelang. Denominasinya mulai dari USD 1000.

Uang Primer atau Reserve Money, kewajiban otoritas moneter yang terdiri atas uang kertas dan uang logam yang berada di luar BI dan KPKN, yang dimiliki oleh bank umum dan sektor swasta , serta simpanan giro bank umum dan sektor swasta (penduduk) pada BI.

Variable Rate Bonds, obligasi yang suku bunganya ditetapkan berdasarkan tingkat bunga SBI 3 bulan. Bunga dibayarkan setiap 3 bulan pada tanggal 25 pada bulan yang telah ditentukan.

Weighted Average Price (WAP), harga obligasi yang ditetapkan secara rata-rata tertimbang.

Withholding tax, pajak yang dipungut dimuka oleh Wajib Pungut.

Yield (Imbal Hasil), keuntungan yang diharapkan oleh investor dalam persentase per tahun.

Yield curve (kurva hasil), grafik yang menggambarkan hubungan antara tingkat keuntungan (rate of return) atau yield dengan berbagai jangka waktu jatuh tempo obligasi.

Yield to maturity (YTM), tingkat keuntungan (rate of return) yang akan diterima investor dari suatu obligasi apabila dimiliki sampai dengan jatuh tempo.

*) pengertian terutama mengacu kepada obligasi rekap

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags:' <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Copyright © 2013 Imanuel Revelino All rights reserved.
Desk Mess Mirrored v1.4.1 theme from BuyNowShop.com.